Aris Doris, Aktivis Agamis dan Kritis dari Cikedal

Aris Doris, Aktivis Agamis dan Kritis dari Cikedal
Gambar : Aris Doris Saat Tengah Orasi dalam kegiatan aksi Unjuk rasa

Sosok, Bantensuara.Com – Sosok pemuda Pandeglang, Aris Doris, belakangan ini kerap menjadi sorotan di kalangan aktivis muda dan masyarakat. Terlahir dari keluarga sederhana di Desa Babakanlor, Kecamatan Cikedal, ia tumbuh menjadi pribadi yang agamis, kritis, dan peduli terhadap kondisi sosial di sekitarnya.

Bagi masyarakat Cikedal, nama Aris Doris bukan sekadar dikenal sebagai aktivis, tetapi juga sebagai seorang pengajar agama yang akrab dipanggil Ust. Doris. Sejak kecil, ia sudah ditempa dengan pendidikan agama di Pondok Pesantren Al-Iqtishod, Kampung Kadubadak, Babakanlor. Pesantren itu pula yang membentuk karakter keislamannya yang kuat, membawanya menjadi pribadi sederhana namun berprinsip. Hingga kini, ia masih aktif membantu sebagai tenaga pengajar, membimbing para santri dengan ilmu agama yang ia dapatkan.

Semangat belajar Aris Doris tidak berhenti di pesantren. Ia melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi, menamatkan studi Strata Satu (S1) di Sekolah Tinggi Agama Islam Babanunjah (STAIBANNA). Di kampus, pola pikirnya semakin matang, ia tidak hanya mempelajari agama tetapi juga aktif berdiskusi soal sosial, politik, hingga kepemudaan.

Kiprahnya makin luas ketika ia aktif berorganisasi. Aris Doris tercatat sebagai kader Gerakan Pemuda Ansor serta menjadi bagian dari Karang Taruna Kabupaten Pandeglang. Lewat organisasi tersebut, ia tampil kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah daerah yang dianggap kurang berpihak pada masyarakat. Kritik yang ia sampaikan tidak berhenti pada retorika, tetapi selalu dibarengi dengan solusi dan gagasan membangun.

Di tengah aktivitasnya sebagai aktivis, Aris Doris tetap menjaga jati dirinya sebagai pemuda agamis. Ia kerap diundang untuk mengisi ceramah agama, memberikan kajian, hingga membina kegiatan keislaman di desanya. Hal inilah yang membuatnya memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat, terutama kalangan pemuda dan santri.

Menurut sejumlah rekan seorganisasi, Aris Doris dikenal sebagai sosok yang berani menyuarakan kebenaran. Ia tidak segan mengkritisi praktik-praktik yang dinilai merugikan masyarakat. Namun di sisi lain, ia juga dikenal santun dalam menyampaikan aspirasi, sehingga sering menjadi penengah dalam berbagai persoalan sosial di tingkat lokal.

“Ust. Doris itu sosok pemuda yang langka. Dia bukan hanya pintar bicara, tapi juga mau turun langsung membantu masyarakat. Dari mengajar santri di pesantren, ikut gotong royong, sampai mengadvokasi persoalan kebijakan. Itu yang membuatnya dihormati,” ujar salah satu tokoh pemuda Cikedal.

Ke depan, Aris Doris bertekad terus mendorong pemuda Pandeglang agar lebih aktif, kritis, dan peduli terhadap pembangunan daerah. Baginya, generasi muda harus tampil di garda terdepan, tidak hanya sebagai penonton, tetapi ikut menentukan arah perubahan.

Sosok Aris Doris menjadi bukti nyata bahwa dari desa kecil di pelosok Pandeglang dapat lahir figur pemuda yang menggabungkan nilai agama, sosial, dan kepemimpinan. Kehadirannya tak hanya memberi warna baru di dunia aktivisme, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berani bermimpi, berjuang, dan tetap berpijak pada nilai keagamaan.(Red).
Rabu, 24 September 2025.