Perjalanan Penuh Perjuangan Sirojudin, Guru Honorer SDN Pasirtenjo 2 yang Tetap Tegar di Tengah Ketidakpastian
Pandeglang, Bantensuara.com – Di balik semangat pendidikan di pelosok Kabupaten Pandeglang, tersimpan kisah pengabdian yang menyentuh dari seorang guru honorer bernama Sirojudin, warga Kampung Pakis, Desa Pasirtenjo, Kecamatan Sindangresmi. Pria kelahiran Pandeglang tahun 1990 ini telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan, meski dengan berbagai keterbatasan dan ketidakpastian yang harus ia hadapi setiap hari.
Sirojudin dikenal sebagai sosok yang aktif dan berdedikasi, baik di lingkungan pendidikan maupun dalam kegiatan sosial dan organisasi kepemudaan. Ia menempuh pendidikan tinggi di STKIP Setia Budhi Rangkasbitung, dan berhasil menyelesaikan studi pada tahun 2012–2013. Selama menjadi mahasiswa, ia aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, di antaranya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Lebak, tempat ia kemudian dipercaya menjadi pengurus pada periode 2013–2014.
Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STKIP Setia Budhi, serta Komandan Resimen Mahasiswa (Menwa) kampus yang sama pada periode 2013–2014. Aktivitasnya di dunia organisasi kampus membentuk pribadi Sirojudin menjadi sosok yang disiplin, tangguh, dan peduli terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.
Setelah lulus kuliah, pengabdiannya tidak berhenti di sana. Sirojudin kemudian terjun ke dunia pemerintahan desa, dengan menjadi perangkat Desa Pasirtenjo pada tahun 2016 hingga 2018. Di tengah kesibukannya, ia juga tetap berperan aktif dalam kegiatan kepemudaan. Sejak tahun 2017, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Pengurus Kecamatan (PK) KNPI Sindangresmi, posisi yang masih ia emban hingga saat ini.
Namun, di balik aktivitas dan pengabdian tersebut, kehidupan Sirojudin sebagai guru honorer jauh dari kata mudah. Sejak tahun 2020, ia mulai mengajar sebagai guru mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di SDN Pasirtenjo 2. Dengan penghasilan yang terbatas, ia tetap bertahan karena kecintaannya terhadap profesi guru dan tanggung jawab moral untuk mendidik anak-anak di kampung halamannya.
“Kadang ada rasa lelah, bahkan ingin menyerah,” tutur Sirojudin dengan nada pelan. “Tapi ketika saya melihat wajah anak-anak di sekolah yang penuh semangat belajar, serta melihat istri dan anak saya di rumah, saya sadar bahwa saya tidak boleh menyerah. Mereka adalah alasan saya untuk tetap kuat.” Jum'at 31/10/2025.
Bagi Sirojudin, menjadi guru honorer bukan hanya tentang mencari nafkah, tetapi tentang pengabdian dan ketulusan hati. Ia menganggap setiap hari di sekolah adalah bagian dari perjuangan yang harus dijalani dengan sabar. “Dari perjalanan menjadi guru honorer ini, saya belajar banyak hal. Bahwa hidup adalah perjalanan panjang yang harus dinikmati. Setiap rintangan adalah pelajaran, dan setiap tantangan adalah ujian kesabaran,” ujarnya.
Sirojudin juga mengungkapkan harapannya agar pemerintah memberikan perhatian lebih kepada para guru honorer yang telah lama mengabdi. Ia berharap bisa segera diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) agar kehidupannya lebih stabil dan layak.
“Semoga tahun ini ada angin segar dari penantian panjang kami,” ucapnya penuh harap. “Harapan menjadi PPPK sudah lama saya nantikan, meski sampai hari ini masih terombang-ambing oleh kebijakan. Tapi saya percaya, perjuangan tidak akan mengkhianati hasil.”
Di tengah ketidakpastian status, Sirojudin tetap berusaha menjalani hidup dengan optimisme. Ia percaya bahwa setiap langkah kecil dalam mendidik anak-anak adalah bagian dari amal yang kelak berbuah kebaikan. “Saya tidak ingin anak-anak di kampung saya kehilangan semangat belajar hanya karena gurunya berhenti. Selama saya masih bisa berdiri di depan kelas, saya akan terus mengajar,” katanya tegas.
Kisah Sirojudin menjadi gambaran nyata perjuangan para guru honorer di pelosok daerah yang bertahan dengan segala keterbatasan. Meski hidup sederhana dan kerap diliputi kekhawatiran, semangat pengabdian mereka tidak pernah padam.
“Menjadi guru bukan hanya soal gaji atau status. Ini tentang tanggung jawab moral untuk mencerdaskan anak bangsa,” ujar Sirojudin menutup percakapan dengan mata berkaca-kaca.
Perjalanan panjang Sirojudin adalah cerminan keteguhan hati seorang pendidik yang terus berjuang di tengah ketidakpastian. Dalam kesunyian dan kesederhanaan, ia tetap menyalakan api semangat pendidikan di pelosok Pandeglang demi masa depan anak-anak yang ia ajar, dan demi cita-cita yang belum pernah padam. (Red).
Reporter : Nur Amalia
Editor : A Rozak
Redaksi.Bantensuara.com

Zek Permana 














