Kondisi Kandang Dan Kolam BUMDES "Berkah Sari" Masih Kosong Ini Kata Tim Pengawas
PANDEGLANG – bantensuara.com | Realisasi program ketahanan pangan yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) "Berkah Sari" di Desa Senangsari, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, menjadi sorotan publik. Pasalnya, meski anggaran senilai Rp152 juta telah dinyatakan terserap 100 persen pada tahun anggaran 2025, hingga memasuki tahun 2026, target utama berupa 600 ekor bibit ayam petelur dan 2.000 ekor benih ikan nila belum juga terlihat wujudnya di lokasi yang telah disiapkan. Senin, (04/05/2026).
Hasil keterangan dari beberapa sumber mengatakan, kolam ikan yang akan dimanfaatkan sebenarnya telah tersedia jauh sebelum program ini disusun. Sementara itu, kandang yang baru saja diselesaikan pembangunannya di atas tanah aset desa itu, hingga saat ini masih kosong sama sekali. Padahal seharusnya program tersebut sudah berproduksi dan memberikan manfaat serta hasil yang berguna bagi masyarakat setempat.
Menanggapi hal tersebut, Tim Pengawas BUMDES, Oji Fauzi, mengatakan bahwa selain faktor waktu, menurutnya, pergantian kepemimpinan juga menjadi salah satu pemicu molornya jadwal pelaksanaan. Hal ini menyebabkan adanya perubahan dalam perencanaan awal yang berdampak pada penundaan aktivitas di lapangan.
"Karena terjadi pergantian kepemimpinan dan keterbatasan waktu penyerapan anggaran di akhir tahun 2025, akhirnya rencana diubah. Hal inilah yang menyebabkan pelaksanaan sempat molor," ucap oji, melalui sambungan telepon.
Oji mengaku telah memberikan teguran, baik secara lisan maupun tulisan, agar program segera direalisasikan. Namun, ia menegaskan posisinya hanya sebatas melakukan pemantauan atau monitoring, sehingga jika terjadi penyimpangan, penindak lanjutan akan sepenuhnya diserahkan kepada tim audit yang lebih berwenang.
"Saya hanya sebatas monitoring, sebelumnya saya sudah memberikan teguran baik lisan maupun tulisan untuk segera merealisasikannya. Selanjutnya, segala sesuatu merupakan hak BUMDES, jikalau program tersebut tidak berjalan, ada tingkat yang lebih tinggi yang akan menindaklanjuti," tegasnya.
Di sisi lain, anggota tim pengawas lainnya, Iwan, memaparkan versi yang berbeda. Menurutnya, terjadi perubahan mendasar pada kegiatan yang awalnya direncanakan untuk optimalisasi lahan Ketapang menjadi budidaya ternak. Perubahan ini, kata dia, merupakan inisiatif yang diinginkan oleh Kepala Desa dan diikuti oleh Direktur BUMDES, yang berakibat pada penangguhan pencairan anggaran hingga bulan Desember.

Gambar: kolam ikan kosong
"Penangguhan anggaran dari Kepala Desa yang menginginkan ayam negri, sehingga realisasi pencairan baru di cairkan pada Bulan Desember, mengakibatkan pelaksanaan terhambat," ujar Iwan melalui pesan singkat.
Ia juga menyoroti prosedur perubahan rencana yang dinilai tidak melalui mekanisme musyawarah yang semestinya, sehingga program terkesan dipaksakan. Meski demikian, berdasarkan observasi terbaru, Iwan menyebut bahwa saat ini proses pengadaan bibit diklaim sudah berjalan dan diharapkan dapat segera diluncurkan atau launching pada awal bulan ini.
"Tapi berdasarkan hasil observasi lapangan, keterangan ketua BUMDES sekarang sedang on progres, mudah-mudahan awal bulan ini launching," tambahnya.
Di lokasi berbeda, Direktur BUMDES "Berkah Sari", Dayat, membenarkan bahwa seluruh dana tahap satu dan dua telah diserap sepenuhnya. Ia mengklaim bahwa barang yang diamanahkan saat ini tengah dalam proses pemesanan dan menunggu kedatangan.
"Dana yang diserap mencapai Rp152 juta. Saat ini kami tengah menunggu kedatangan bibit yang dipesan yakni 600 ekor ayam petelur dan 2.000 ekor ikan nila," ujar Dayat kepada awak media di kediamannya.
Alasan di balik keterlambatan, dirinya menegaskan bahwa pencairan dana desa tidak dilakukan secara serentak. Menurutnya, anggaran baru bisa dicairkan pada penghujung tahun 2025, sehingga waktu pelaksanaan menjadi sangat terbatas.
"Pencairan dana desa tidak serentak, dana baru bisa dicairkan di waktu terakhir pada November akhir di tahun 2025, sehingga mengakibatkan keterlambatan dalam pelaksanaan," kilahnya.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat setempat masih menanti kejelasan dan bukti nyata dari program yang telah menghabiskan ratusan juta rupiah dari anggaran desa tersebut.
Bantensuara.com akan terus menelusuri informasi lebih lanjut dan membuka ruang hak jawab bagi seluruh pihak terkait demi menjaga prinsip keberimbangan dan akurasi pemberitaan. ///(Wan)
















