Diakomodir DPMPD Pandeglang, Buku Administrasi Desa, Aktivis Menilai Terlalu Mahal
Pandeglang, Bantensuara.Com– Harga buku administrasi desa yang dibebankan melalui Dana Desa (DD) oleh seluruh desa di Kabupaten Pandeglang menuai sorotan. Pasalnya, anggaran yang dialokasikan sebesar Rp 2 juta oleh masing-masing desa, hanya mampu mendapatkan lima unit buku.
Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, pengadaan buku administrasi desa tersebut telah diakomodir oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Pandeglang. Mekanismenya, dana pengadaan buku dari tiap desa disetorkan langsung ke DPMPD melalui anggaran Dana Desa tahap I tahun 2025.
Kondisi ini dinilai janggal dan memberatkan desa. Harga satuan buku dianggap terlalu mahal dibandingkan dengan kualitas serta manfaat yang didapat.
Aktivis Aliansi Generasi Muda Pandeglang (AGMP), Ahmadi Rewok, turut menyoroti hal ini. Menurutnya, pola pengadaan yang terpusat di DPMPD rawan menimbulkan pertanyaan.
“Bagaimana mungkin dengan anggaran Rp2 juta, desa hanya mendapatkan 5 buku. Artinya, satu buku bernilai Rp400 ribu. Itu jelas tidak masuk akal. Kami menduga ada permainan dalam pengadaan ini,” tegas Ahmadi, Jumat (26/09/2025).
Ia juga menilai, langkah DPMPD yang mengakomodir pengadaan justru bisa mengurangi transparansi penggunaan Dana Desa. Padahal, menurutnya, desa seharusnya diberi ruang untuk melakukan pengadaan sendiri agar lebih efektif dan efisien.
“Kalau memang untuk kebutuhan administrasi desa, seharusnya diserahkan langsung ke desa agar mereka bisa memilih sesuai kualitas dan harga yang wajar. Jangan sampai justru menjadi beban karena harga yang tidak rasional,” tambahnya.
Ahmadi meminta aparat penegak hukum untuk ikut mengawasi pengadaan buku administrasi desa ini. Ia menekankan agar penggunaan Dana Desa benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat, bukan dimanfaatkan oleh oknum tertentu.
Hingga berita ini diturunkan, pihak DPMPD Pandeglang belum memberikan klarifikasi resmi terkait adanya keluhan harga buku administrasi desa yang dinilai terlalu mahal tersebut. (Mas/Red).

Zek Permana 














