Rusak Parah Akibat Proyek Tol: Ratusan Warga Dua Kecamatan Kepung Kantor PT HUTAMA KARYA

Rusak Parah Akibat Proyek Tol: Ratusan Warga Dua Kecamatan Kepung Kantor PT HUTAMA KARYA
Gambar: pengunjuk rasa lakukan aksi bakar ban

Pandeglang - bantensuara.com | Suasana tegang membungkus kantor PT Hutama Karya di Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Senin (18/5/2026). Ratusan warga dari Kecamatan Patia dan Kecamatan Sukaresmi bergerak serentak menggelar unjuk rasa. Aksi ini dipicu kerusakan parah jalan lingkungan dan jalan lintas desa yang diduga akibat aktivitas proyek strategis nasional Jalan Tol Serang–Panimbang Seksi 3.

Massa memadati halaman hingga akses utama kantor. Aparat keamanan diterjunkan untuk mengawal ketat lokasi. Warga membawa spanduk bertuliskan tuntutan sambil meneriakkan yel-yel lantang: “Perbaiki Jalan Kami!”, “Berikan Hak Kami!”, hingga “Jangan Menindas Warga!”.

Dari mobil komando, Koordinator Lapangan Aris Doris berorasi dengan nada tegas. Ia membuka pidato dengan pesan moral:

“Barangsiapa melihat kemungkaran, ubahlah dengan kekuasaan, tangan, atau hati. Iman hanya menyisakan harapan jika kebenaran tak diperjuangkan.”

Aris menyoroti janji manis yang dinilai ingkar janji. “PT Hutama Karya berjanji menghadirkan perbaikan dan kemajuan. Kami berharap jalan mulus dan kesejahteraan meningkat, tapi kenyataannya justru sebaliknya,” tegasnya.

Ia menolak mediasi dengan pejabat tingkat bawah. “Kami tak mau berunding dengan pihak tak berwenang! Kami minta pemimpin tertinggi datang berdialog. Kami sudah muak dengan janji palsu yang tak pernah nyata!” serunya disambut sorak sorai massa.

Gambar: Aris Doris orasi diatas mobil komando

Kemarahan memuncak saat Aris menyamakan perlakuan perusahaan dengan masa penjajahan:

“PT Hutama Karya lebih kejam dari penjajah Belanda maupun Jepang! Meski kami tinggal di pinggir sungai atau hutan, jangan kira kami bodoh. Kami punya harga diri dan hak yang wajib dihormati!”

Ia memperingatkan aksi ini bukan yang terakhir. “Kami bersatu dari dua kecamatan. Jika suara ini diabaikan, warga lain siap bergabung. Aksi terus berlanjut sampai tuntutan terpenuhi dan kami terbebas dari penindasan!” tukasnya disambut tepuk tangan gemuruh.

Orator lain menegaskan keluhan bertahun-tahun yang tak digubris. Ia merinci Desa Sukaresmi, Kubang Kampil, dan Turus sebagai wilayah terdampak parah. Jalan penghubung antar-desa kini rusak total dan nyaris tak bisa dilalui kendaraan maupun pejalan kaki.

Reporter: Moch. Ridho

Editor: Iwan Setiawan