Diduga Fiktif dan Mangkrak Program KETAPANG 2025 Di Pagelaran Disorot, Tim Monev: Seharusnya Sudah Berjalan
Pandeglang | bantensuara.com | Kontroversi pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) “Berkah Sari”, Desa Senangsari, Kecamatan Pagelaran, kembali mencuat ke permukaan. Pasalnya, meski telah melalui proses Monitoring dan Evaluasi (Monev), dana program ketahanan pangan senilai ratusan juta rupiah yang diklaim telah terserap 100 persen pada tahun anggaran 2025, hingga Monev bulan ini tidak memiliki bukti fisik yang nyata.
Deni, anggota Tim Monev Kecamatan, menyatakan keprihatinannya saat ditemui di lokasi. Ia menegaskan, dengan penyerapan dana desa yang dinyatakan tuntas, program yang meliputi 600 ekor ayam petelur dan 2.000 ekor ikan nila seharusnya sudah berjalan optimal. Namun, pengecekan di lapangan membuktikan sebaliknya.
“Secara proposal program ini seharusnya sudah berjalan, tapi faktanya masih banyak hal yang belum terealisasi,” ujar Deni kepada awak media, Senin (18/5/2026).
Hingga saat ini, penyebab dan kendala keterlambatan pelaksanaan belum diketahui secara pasti. Padahal, tim telah berupaya memanggil Direktur BUMDes dalam agenda Monev, namun tidak ada yang hadir.
“Kami ingin memastikan progres sampai hari ini. Sebelumnya sudah diupayakan kehadiran pengurus, tapi setelah dikonfirmasi, mereka tidak dapat hadir,” tambahnya.
Deni mengancam, jika hingga akhir Mei 2026 program ini belum juga terealisasi, pihaknya akan berkonsultasi dengan instansi terkait, termasuk Pemerintah Desa dan lembaga pengawas. Langkah tegas akan diambil berupa teguran resmi.
“Jika realisasi tidak sesuai, kami akan memberikan teguran kepada Pemerintah Desa. Namun untuk saat ini, kami masih perlu konfirmasi resmi dari pengurus terkait kendala yang dihadapi,” tegasnya.

Gambar: kondisi kandang saat ini
Di sisi lain, Direktur BUMDes, Dayat, sebelumnya telah mengakui penyerapan dana tahap I dan II tahun 2025 mencapai Rp152 juta. Namun ia berdalih barang pesanan belum diterima.
“Dana sudah terserap Rp152 juta. Saat ini kami masih menunggu kedatangan bibit ayam petelur dan ikan nila yang dipesan,” jelas Dayat.
Ia juga mengemukakan alasan teknis: “Selain kendala cuaca dan keterlambatan pembinaan, pencairan dana desa baru cair akhir November 2025, sehingga pelaksanaan menjadi tertunda.”
Hingga berita ini diturunkan, publik dan pihak berwenang masih mempertanyakan: ke mana ratusan juta rupiah dana itu disalurkan, kapan bibit dijanjikan tiba, atau apakah ada oknum yang tidak bertanggung jawab di balik masalah ini.
Bantensuara.com akan terus menelusuri perkembangan kasus ini dan membuka ruang hak jawab bagi seluruh pihak demi akurasi serta keseimbangan pemberitaan. ///(Wan)
















