SIKM Porang Panimbang Tidak Sesuai Harapan IKM

SIKM Porang Panimbang Tidak Sesuai Harapan IKM

Pandeglang - Banten | Rachman Chaerul Farid, SE., salahseorang kelompok pengelola Industri Kecil Menengah (IKM) umbi porang di kecamatan Pagelaran segaligus Sekertaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Perkumpulan Pembudidaya Porang, Pangan dan Rempah Indonesia (P3RI) menanggapi masalah SIKM porang yang ada di Desa Mekarsari Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten, yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan beroperasi.

Menurut Farid, masa Produksi Porang tidak seperti produksi hasil pangan lainya yang bisa panen sepanjang tahun, karena Porang adalah tanaman unik yang masa panennya ditentukan oleh musim kemarau atau dormasi porang tersebut.

"Kalau istilah dikitanya porang mengalami mati suri, baru bisa dipanen, biasanya porang bisa dipanen pada bulan Maret sampai dengan bulan Oktober di setiap siklusnya," ucap Farid kepada bantensuara.com.

Farid juga mengatakn kalau bulan November sampai Februari itu masa tumbuh porang atau porang dalam masa penggantian umbi, karena porang bukan tanaman yang membesarkan umbi tapi umbi lama akan hancur dan digantikan dengan umbi yang baru.

"Jadi kalau seandainya SIKM porang mulai dioperasikan pada bulan Juli berarti Sentra Industri Kecil Menengah (SIKM) Porang Panimbang hanya Beroprasi selama 4 bulan, itupun kalau masih ada bahan baku, karena pabrik-pabrik di jawa timur dan jawa tengah dari mulai bulan maret sudah gencar membeli hasil panen porang dari Pandeglang, jelas Farid.

Masih menurut Farid, bahwa seandainya SIKM dikelola tanpa ada stok bahan baku dari kebun inti, tentunya sulit karena biaya operasional mesin dan lainya itu tidak murah, contoh produksi 50 ton per hari dengan 1 ton perhari sama saja biayanya. contohnya, karyawan untuk industri yang menggunakan mesin modern seperti di SIKM paling tidak 25 sampai 30 orang, dikali UMR pandeglang, terus biaya pemanas Oven paling tidak 2,5 juta per hari, biaya listrik paling tidak 25 juta perbulan, belum biaya-biaya lainnya seperti packing, survur dan lainya kami hitung sebelum pembelian bahan baku atau pengeluaran wajib per bulan nya mencapai kurang lebih 200 juta, kalau SIKM hanya produksi 10 ton perhari atau 250 ton berbulan selama 4 bulan baru 1000 ton, kalau beli bahan baku 4.000 per kg sudah mencapai 4 M ditambah biaya produksi selama 1 tahun -+ 1 M, berarti modal setidaknya 5 M dalam kurun waktu 4 bulan.

"Hasil Chips Kering dari 1000 ton hanya mendapat -+ 125 ton dengan rendemen 8/1, kalau harga chips kering 38.000 per Kilo gram, maka total omset per tahun nya mencapai Rp. 4.750.000.000,- itu sudah tekor 250 juta itupun kalau 10 ton perhari, dan itupun jika bahan baku ada tersedia, namaun apabila tidak sampai 10 ton per hari, ya bisa-bisa tekor 50% nya," ungkap Sekjen DPP P3RI.

Senada disampaikan M. Maksum, ia mengatakan bahwa tadinya DPP P3RI ingin mengelola SIKM Porang Panimbang, karena P3RI sudah hampir 3 tahun mengawal program tersebut, walau lumayan banyak biaya pribadi dan biaya organisasi yang dikelurkan. 

"Tadinya kami ingin pertanian di Pandeglang ini maju, sehingga menjadi kebanggaan kami selaku petani porang.Tapi kenyataannya kami yang sudah berjuang dari awal ingin turut serta mensuksekan Program pemerintah malah hanya di kasih madu di hidung," kata Maksum dengan nada kecewa. (Irf)