Wawancara Eksklusif: Mitra SPPG Dapur Aisha Bojongcanar Menjawab Polemik dan Kritik Publik
Pandeglang, Bantensuara.com – Dalam beberapa pekan terakhir, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Aisha Bojongcanar menjadi sorotan publik menyusul munculnya kritik dari sejumlah lembaga pemerhati sosial terkait pelayanan dan kualitas pangan. Untuk menjawab berbagai tudingan tersebut, redaksi Bantensuara.com melakukan wawancara eksklusif dengan dua perwakilan mitra pengelola dapur, Yora dan Tazvia Amaranti, di pusat dapur Bojongcanar, Kabupaten Pandeglang.
Dalam perbincangan yang berlangsung terbuka, keduanya memaparkan langkah-langkah yang telah diambil, mulai dari penelusuran sumber masalah, pembenahan sistem, hingga peningkatan standar mutu dan keamanan pangan bagi penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Yora menguraikan kronologi temuan daging ayam tidak layak konsumsi. “Setelah kami lakukan penelusuran internal, diketahui bahwa daging tersebut berasal dari pengiriman pada 15 Oktober 2025 oleh salah satu pemasok dari wilayah Cikedal,” jelasnya. Ia menegaskan, kasus itu bukan kelalaian sistemik, melainkan insiden terbatas pada sebagian kecil paket daging dari pemesanan ke-7.
“Enam kali pengiriman sebelumnya, semua daging dalam kondisi sangat baik. Baru di pengiriman ketujuh ditemukan sebagian kecil yang berbau tidak normal,” lanjutnya. Sebagai bentuk tanggung jawab, pihaknya menarik seluruh bahan pangan dari batch tersebut dan menggantinya dengan menu baru. “Kami juga mengirimkan paket makanan kering untuk 380 siswa di dua sekolah yang sempat menerima distribusi daging itu,” kata Yora.
Permintaan maaf resmi disampaikan kepada pihak sekolah dan masyarakat setempat. “Kami tidak ingin persoalan ini menimbulkan keresahan. Prinsip kami transparansi dan tanggung jawab,” tegas Yora. Saat ini, SPPG Aisha tengah dalam proses memperoleh Sertifikasi Sanitasi Lingkungan dan Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan Pandeglang. “Prosesnya sedang berjalan dan ditargetkan rampung sebelum Desember 2025,” ujarnya.
Di sisi lain, Tazvia Amaranti menuturkan bahwa pascainsiden, tim dapur langsung memperkuat sistem pelaporan dan dokumentasi. “Setiap masukan dari masyarakat kami jadikan bahan evaluasi. Kami juga membuka ruang komunikasi dengan tokoh masyarakat dan pihak sekolah agar tidak terjadi kesalahpahaman,” ujarnya.
Ia menambahkan, kini seluruh kegiatan dapur dicatat secara digital agar bisa dipantau dan diaudit kapan saja. “Mulai dari penerimaan bahan, pengecekan suhu penyimpanan, hingga distribusi ke titik layanan semuanya terdokumentasi secara daring,” tambah Tazvia.
Yora menjelaskan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi prioritas utama. “Kami melaksanakan pelatihan penjamah makanan pada 18 Oktober 2025 dengan menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Pandeglang,” ungkapnya. Pelatihan ini dilakukan secara mandiri karena belum sempat mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) pertama dari Badan Gizi Nasional.
Selain itu, pemeriksaan kesehatan bagi relawan juga telah dilakukan. “Memang sempat terlambat karena percepatan program MBG, tapi kini seluruh relawan sudah memiliki hasil pemeriksaan resmi,” tambah Yora.
Dalam penyediaan bahan baku, Dapur Aisha mengutamakan pemasok dari masyarakat sekitar. “Sejak September 2025 kami bekerja sama dengan tiga pemasok dari Kecamatan Cikedal untuk sayur, ayam, dan bumbu dapur,” jelas Yora. Ia menegaskan, pemasok produk peternakan wajib memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV) guna menjamin keamanan pangan.
Menanggapi isu kebersihan, Yora menegaskan semua proses dapur mengacu pada Permenkes No. 1096 Tahun 2011. “Tempat penampungan sampah utama berjarak 25 meter dari area dapur. Setelah proses peracikan selesai, sampah langsung dikumpulkan dan dijemput dua kali sehari,” paparnya.
Tazvia menambahkan, pihaknya juga tengah menjajaki kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup. “Kami ingin memanfaatkan sisa bahan pangan untuk kompos agar tidak terbuang percuma. Jadi bukan hanya bersih, tapi juga ramah lingkungan,” katanya.
Terkait isu pemutusan hubungan kerja sepihak, Yora menegaskan hal itu tidak benar. “Beberapa relawan memang sudah menyelesaikan masa tugas sesuai kesepakatan. Sementara satu orang diberhentikan sementara karena alasan kesehatan,” ujarnya.
Tazvia menambahkan, semangat relawan dijaga melalui lingkungan kerja yang aman dan suportif. “Nilai bantuan memang belum setara UMR, tapi kami berupaya menciptakan suasana kerja yang sehat dan saling menghargai,” tuturnya.
Menutup wawancara, Tazvia menyampaikan harapan agar masyarakat memahami bahwa SPPG Aisha terus berbenah. “Kami tidak anti kritik. Justru kritik adalah bahan evaluasi bagi kami untuk tumbuh lebih baik. Semua langkah kami berorientasi pada mutu, tanggung jawab, dan keberlanjutan,” pungkasnya.
Dengan keterbukaan dan pembenahan berkelanjutan, Dapur Aisha Bojongcanar berharap menjadi contoh positif bagi dapur-dapur SPPG lain di wilayah Kabupaten Pandeglang.
Reporter: Iwan S
Editor: Redaksi Bantensuara.com
Sumber: Wawancara Eksklusif Mitra SPPG Dapur Aisha Bojongcanar, 24 Oktober 2025

Zek Permana 














