Endang Suhendar, Dari Pandeglang yang Mengubah Kesederhanaan Menjadi Jalan Pengabdian

Endang Suhendar, Dari Pandeglang yang Mengubah Kesederhanaan Menjadi Jalan Pengabdian
Gambar: Endang Suhendar Saat Memberikan Santunan

PANDEGLANG, BANTENSUARA.COM – Tidak semua mimpi tumbuh di tempat yang serba ada. Sebagian mimpi justru tumbuh di tengah kesederhanaan, di lingkungan yang jauh dari gemerlap kota, serta dari keluarga yang mengajarkan arti perjuangan sejak dini.

Dari tempat seperti itulah perjalanan Endang Suhendar, S.H., M.M. dimulai.

Ia tumbuh dari keluarga sederhana di wilayah pedalaman Pandeglang. Kehidupan yang dijalaninya sejak kecil mungkin jauh dari kemewahan, tetapi justru di sanalah ia mendapatkan pelajaran berharga tentang kehidupan.

Sejak kecil, Endang mengenal arti perjuangan dari kehidupan keluarganya. Kesederhanaan menjadi bagian dari kesehariannya, sekaligus menjadi ruang pertama untuk memahami bahwa kehidupan membutuhkan kerja keras, kesabaran dan keteguhan.

Tidak banyak yang dapat diberikan keluarga kepada seorang anak selain kasih sayang, doa dan teladan. Namun bagi Endang, semua itu sudah lebih dari cukup. Dari keluarganya, ia belajar tentang ketekunan.

Dari kesederhanaan, ia belajar tentang rasa syukur.

Endang Suhendar saat bersama tokoh masyarakat 

Dari kehidupan yang tidak selalu mudah, ia belajar untuk tidak mudah menyerah.

Dan dari lingkungan tempat ia dibesarkan, ia belajar bahwa harga diri seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang dimilikinya, melainkan oleh bagaimana seseorang menjalani kehidupan dan memperlakukan sesama.

Tidak pernah ada jalan yang benar-benar mudah dalam perjalanan hidup. Namun Endang memilih untuk terus melangkah.

Dengan latar belakang keluarga sederhana, ia menempuh proses pendidikan dan perjalanan kehidupan hingga kemudian dipercaya menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Bagi sebagian orang, menjadi ASN mungkin hanya sebuah profesi. Namun bagi Endang, perjalanan tersebut memiliki makna yang lebih dalam. Ia membawa sebuah cerita dari rumah; cerita tentang kesederhanaan, perjuangan keluarga, dan seorang anak dari pedalaman yang berusaha mengubah harapan menjadi kenyataan.

Karena itulah, ketika menjalankan tugas sebagai ASN, Endang memahami bahwa di balik pelayanan pemerintahan terdapat masyarakat dengan kehidupan dan perjuangannya masing-masing.

Ia memilih untuk tetap dekat dengan masyarakat dan tidak membangun jarak. Ia juga tidak melupakan lingkungan tempat dirinya berasal.

Sebab, Endang tahu betul bagaimana rasanya menjalani kehidupan dalam kesederhanaan.

Pengabdian di Tengah Masyarakat

Bagi Endang, pengabdian bukan hanya tentang datang ke kantor, menyelesaikan pekerjaan, kemudian pulang.

Pengabdian juga berarti hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Di luar kesibukannya sebagai ASN, Endang aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Ia berusaha hadir di tengah masyarakat, ikut membangun kebersamaan, membantu berbagai kegiatan, serta membuka ruang komunikasi dengan berbagai kalangan.

Tidak selalu dalam bentuk sesuatu yang besar. Terkadang cukup dengan hadir, mendengarkan, dan ikut membantu.

Sebab, kepedulian tidak selalu harus menunggu seseorang menjadi kaya atau memiliki kekuasaan. Kepedulian bisa dimulai dari hati.

Nilai tersebut menjadi salah satu pelajaran penting yang ia dapatkan dari keluarga.

Kehidupan sederhana mengajarkannya bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada tetangga yang harus dihormati, ada masyarakat yang harus dirangkul, ada orang yang membutuhkan uluran tangan, dan ada lingkungan yang harus dijaga bersama.

Bergerak Melalui Koperasi

Semangat untuk memberikan manfaat kemudian membawanya ke dunia usaha melalui Koperasi Sabar Subur Aldy Berkah, yang bergerak di bidang simpan pinjam.

Di bidang ini, Endang tidak hanya melihat angka, modal dan transaksi. Ia melihat manusia.

Ada masyarakat yang ingin bertahan, ada keluarga yang ingin mengembangkan usaha, ada pelaku ekonomi kecil yang membutuhkan kesempatan, dan ada harapan yang ingin mereka perjuangkan.

Pengalaman hidup dari keluarga sederhana membuat Endang memahami bahwa kesempatan ekonomi memiliki arti penting bagi masyarakat.

Karena itu, koperasi menjadi salah satu ruang baginya untuk ikut mengambil bagian dalam aktivitas ekonomi masyarakat.

Baginya, membangun ekonomi bukan semata-mata tentang keuntungan, tetapi juga tentang membuka kesempatan agar orang lain memiliki ruang untuk tumbuh.

Endang Suhendar saat Membagikan santuan kepada anak yatim piatu dan anak tidak mampu

Menggerakkan Olahraga dan Kebersamaan

Di luar aktivitas sebagai ASN, kegiatan sosial dan koperasi, ada satu dunia lain yang begitu dekat dengan Endang, yakni olahraga bola voli.

Ia aktif menggerakkan olahraga melalui Tim Bola Voli Aldy Berkah.

Di lapangan, Endang bukan sekadar melihat pertandingan. Ia melihat anak-anak muda yang sedang mencari ruang, masyarakat yang membutuhkan hiburan, sahabat yang ingin berkumpul, serta kesempatan untuk mempererat silaturahmi.

Bola voli kemudian menjadi lebih dari sekadar olahraga. Ia menjadi ruang bertemunya banyak orang, tanpa melihat latar belakang ekonomi, pekerjaan maupun status sosial.

Di lapangan, semuanya berdiri dalam semangat yang sama, yakni kebersamaan dan sportivitas.

Endang percaya bahwa generasi muda membutuhkan ruang untuk berkembang. Mereka membutuhkan kegiatan positif dan lingkungan yang membuat mereka merasa dihargai serta diterima.

Karena itulah olahraga terus ia gerakkan, bukan hanya untuk mengejar kemenangan, tetapi juga untuk membangun persaudaraan.

Di Balik Sosok yang Selalu Ceria

Ada satu hal yang juga melekat pada sosok Endang, yakni keceriaannya.

Ia dikenal mudah tersenyum, mudah bergaul dan tidak sulit ditemukan sedang berbincang bersama masyarakat.

Namun di balik senyum tersebut, terdapat perjalanan panjang seorang anak dari keluarga sederhana yang tidak selalu mudah.

Ada masa-masa ketika kehidupan harus dijalani dengan keterbatasan. Ada perjuangan yang mungkin tidak pernah diceritakan. Ada doa keluarga yang terus mengiringi langkahnya.

Semua proses itulah yang kemudian membentuk dirinya seperti sekarang.

Mungkin karena itulah Endang tidak ingin hidup hanya mengejar pencapaian untuk dirinya sendiri.

Ia memilih berbagi kebahagiaan, berolahraga bersama masyarakat, bersosialisasi, terlibat dalam kegiatan sosial, serta tetap membuka ruang untuk membantu orang lain.

Di tengah perjalanan hidup yang terus berkembang, satu hal yang tetap melekat pada diri Endang adalah asal-usulnya.

Ia adalah anak dari keluarga sederhana dan tidak pernah malu dengan hal tersebut.

Justru dari sanalah ia mendapatkan kekuatan.

Sebelum mengenakan pakaian sebagai seorang ASN, sebelum terlibat dalam koperasi, sebelum menggerakkan olahraga dan berbagai kegiatan sosial, ia adalah seorang anak yang tumbuh dalam keluarga yang mengajarkannya arti perjuangan.

Ia tahu bahwa kehidupan tidak selalu mudah.

Ia tahu bahwa setiap keberhasilan membutuhkan proses.

Dan ia tahu bahwa kehidupan harus diperjuangkan.

Tetap Membumi

Pengalaman tersebut membuat Endang memilih untuk tetap membumi.

Sebab, semakin jauh seseorang berjalan, semakin penting baginya untuk mengingat dari mana langkah pertama dimulai.

Hari ini, Endang Suhendar menjalani kehidupannya di berbagai ruang.

Sebagai ASN, ia menjalankan tugas dan tanggung jawab pengabdian. Melalui Koperasi Sabar Subur Aldy Berkah, ia ikut bergerak dalam aktivitas ekonomi masyarakat.

Dalam berbagai kegiatan sosial, ia berusaha hadir dan mengambil bagian di tengah masyarakat. Sementara melalui Tim Bola Voli Aldy Berkah, ia menghidupkan olahraga, silaturahmi dan semangat kebersamaan.

Empat ruang yang berbeda, tetapi memiliki satu tujuan yang sama: memberikan manfaat.

Perjalanannya menjadi pengingat bahwa seseorang tidak harus lahir dari keluarga berada untuk memiliki masa depan.

Tidak harus tumbuh di kota besar untuk memiliki mimpi.

Dan tidak harus memiliki kekayaan berlimpah untuk membantu orang lain.

Terkadang, seseorang hanya membutuhkan keberanian untuk bermimpi, ketekunan untuk berjuang dan hati yang tidak lupa kepada sesama.

Kisah Endang Suhendar pada akhirnya bukan hanya kisah tentang keberhasilan seorang anak dari keluarga sederhana.

Ini adalah kisah tentang keteguhan.

Tentang seseorang yang tumbuh dari kesederhanaan, kemudian berjalan melewati berbagai proses kehidupan tanpa meninggalkan nilai yang ditanamkan keluarganya.

Kesederhanaan tempat ia tumbuh mungkin tidak pernah berbicara. Tetapi dari sanalah Endang belajar bahwa sesuatu yang besar selalu dimulai dari langkah kecil.

Langkah yang harus dimulai.

Harus dijalani.

Harus diperjuangkan.

Dan harus sabar menunggu hasilnya.

Begitu pula kehidupan.

Tidak semua perjuangan langsung menghasilkan sesuatu. Tidak semua kebaikan langsung mendapatkan balasan.

Namun selama seseorang terus menanam kebaikan, suatu hari akan ada sesuatu yang tumbuh dari sana.

Endang Suhendar telah menanamnya melalui pengabdian, kegiatan sosial, pemberdayaan ekonomi dan olahraga.

Dan mungkin, hasil terbesar dari semua itu bukanlah nama, jabatan ataupun pencapaian.

Melainkan ketika ada orang yang merasa terbantu.

Ketika ada anak muda yang menemukan ruang untuk berkembang.

Ketika ada masyarakat yang merasa ditemani.

Ketika sebuah kegiatan menjadi lebih hidup karena kehadirannya.

Di situlah pengabdian menemukan maknanya.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang mampu berjalan, tetapi tentang berapa banyak orang yang dapat ia ajak berjalan bersama.

Dari keluarga sederhana di pedalaman Pandeglang, Endang Suhendar membawa satu pelajaran yang terus ia jalani:

Tidak perlu menunggu menjadi hebat untuk berbuat baik. Tidak perlu menunggu memiliki banyak untuk berbagi. Dan tidak perlu melupakan masa lalu ketika masa depan mulai terbuka lebar.

Karena keberhasilan yang paling indah bukanlah ketika seseorang berhasil meninggalkan tempat asalnya.

Melainkan ketika ia mampu melangkah jauh, mencapai cita-cita, lalu tetap menoleh ke belakang dan berkata:

“Saya berasal dari sana, dan saya tidak pernah melupakan siapa yang mengajarkan saya untuk berjuang.”

Penulis : A Rozak

Editor : Redaksi.Bantensuara.com