Humaedi Zen : Karesep Ngelehken Ka Cape. Poho Mun Teu Boga Duit, Pemuda Inspiratif Dari Cikedal
SOSOK | BANTENSUARA.COM - "Karesep ngelehken ka cape. Poho mun teu boga duit. Saling doakeun mugi sarehat kabehan, lalancarrr milikna aamiin." Kalimat sederhana dalam bahasa Sunda Banten itu bukan sekadar ungkapan yang sering diucapkan Humaedi Zen. Bagi pria kelahiran 1987 asal Kampung Ciatuy, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang, kalimat tersebut merupakan filosofi hidup yang terus dipegang hingga sekarang.
Baginya, seseorang harus mencintai proses perjuangan hingga rasa lelah bukan lagi menjadi beban. Sementara urusan materi tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Yang lebih penting adalah tetap sehat, saling mendoakan, dan terus melangkah memberikan manfaat bagi sesama.
Filosofi itu pula yang menggambarkan perjalanan hidup Humaedi, seorang pemuda yang tumbuh dari kampung yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, namun mampu membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mengabdi.
Tumbuh dari Desa Sederhana
Humaedi Zen lahir dan besar di Kampung Ciatuy, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikedal. Lingkungan pedesaan membentuk karakter hidupnya sejak kecil. Kehidupan yang sederhana mengajarkan arti kerja keras, kebersamaan, dan pentingnya menghargai setiap kesempatan.
Sejak muda, Humaedi memahami bahwa perubahan tidak selalu datang dari tempat yang besar. Justru dari desa yang sederhana, seseorang dapat belajar mengenai arti perjuangan, kejujuran, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi bekal dalam setiap langkah kehidupannya.
Pernah Menikmati Masa Muda
Humaedi mengakui perjalanan hidupnya tidak selalu lurus. Layaknya anak muda pada umumnya, ia pernah menikmati masa-masa penuh kebebasan. Musik menjadi salah satu hobinya. Dunia pergaulan juga pernah menjadi bagian dari kehidupannya.
Namun, waktu mengajarkan banyak hal. Bertambahnya usia dan besarnya tanggung jawab membuatnya mulai memandang kehidupan dari sudut yang berbeda.
Ia menyadari bahwa hidup tidak cukup hanya diisi dengan kesenangan. Ada keluarga yang harus dibanggakan, masyarakat yang membutuhkan kontribusi, serta generasi muda yang memerlukan teladan.
Kesadaran itulah yang kemudian mengubah arah perjalanan hidupnya.

Humaedi Zen saat Mengambil Rumput di pematang sawah
Pendidikan Menjadi Jalan Pengabdian
Bagi Humaedi, dunia pendidikan merupakan salah satu cara terbaik untuk membangun masa depan bangsa.
Saat ini ia mengabdikan dirinya sebagai tenaga pengajar di salah satu sekolah tingkat SLTA di Kabupaten Pandeglang. Profesi sebagai guru dijalaninya dengan penuh tanggung jawab.
Di ruang kelas, ia tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga berusaha menanamkan nilai disiplin, semangat belajar, serta pentingnya memiliki cita-cita.
Menurutnya, seorang guru memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar mengajar. Guru harus mampu menjadi teladan, motivator, sekaligus sahabat bagi para peserta didik.
Karena itulah ia terus berusaha hadir sebagai pendidik yang dekat dengan siswa dan mampu memberikan inspirasi melalui tindakan nyata.
Membangun Kemandirian Lewat Peternakan
Di luar aktivitas mengajar, Humaedi juga mengembangkan usaha peternakan kambing.
Usaha tersebut bukan hanya bertujuan untuk meningkatkan ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan pemuda di lingkungan sekitarnya.
Ia melibatkan sejumlah anak muda dalam pengelolaan peternakan agar mereka memiliki pengalaman, keterampilan, sekaligus kesempatan memperoleh penghasilan.
Baginya, lapangan pekerjaan tidak harus selalu menunggu dari pemerintah atau perusahaan besar. Potensi desa dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi apabila dikelola dengan serius.
Melalui peternakan, Humaedi ingin menunjukkan bahwa sektor pertanian dan peternakan masih memiliki peluang besar apabila digarap dengan tekun.
Aktif Berorganisasi

Humaedi Zen Bersama Ketua GP Ansor Pandeglang H. Sahal, saat Mengikuti Kegiatan Kaderisasi Lanjut (PKL).
Semangat kepemimpinan Humaedi mulai terbentuk ketika menempuh pendidikan tinggi di Bandung.
Saat menjadi mahasiswa, ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Organisasi tersebut menjadi tempat belajar mengenai kepemimpinan, intelektualitas, serta pengabdian kepada masyarakat.
Pengalaman itu memperluas cara pandangnya terhadap berbagai persoalan sosial dan memperkuat komitmennya untuk terus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Sepulang ke Pandeglang, semangat organisasinya tidak berhenti. Ia kemudian aktif di Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pandeglang.
Melalui organisasi kepemudaan tersebut, Humaedi terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Baginya, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan wadah untuk belajar, melayani, dan memperluas manfaat bagi orang lain.
Mengabdi Melalui Program Makan Bergizi Gratis
Kesibukan Humaedi semakin bertambah ketika dipercaya ikut berperan dalam pelayanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program tersebut menjadi salah satu bentuk pengabdiannya kepada masyarakat, khususnya dalam mendukung pemenuhan gizi bagi anak-anak.
Di tengah berbagai aktivitas sebagai guru, peternak, dan organisatoris, ia tetap berusaha menjalankan tugas tersebut dengan penuh tanggung jawab.
Baginya, setiap pekerjaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat layak untuk diperjuangkan.
Filosofi Kehidupan
Di kalangan sahabat dan masyarakat, Humaedi dikenal sebagai pribadi yang sederhana, mudah bergaul, dan tidak mudah menyerah.
Ungkapan yang sering disampaikannya menjadi penyemangat bagi banyak orang.
"Karesep ngelehken ka cape. Poho mun teu boga duit. Saling doakeun mugi sarehat kabehan, lalancarrr milik, aamiin."
Kalimat tersebut mengajarkan bahwa seseorang harus menikmati setiap perjuangan. Jangan terlalu larut memikirkan kekurangan, tetapi tetap berusaha, bekerja keras, menjaga kesehatan, serta saling mendoakan agar semua diberikan kemudahan dalam menjalani kehidupan.
Menjadi Inspirasi dari Kampung
Perjalanan Humaedi Zen menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari jabatan ataupun popularitas.
Mengajar di sekolah, memberdayakan pemuda melalui peternakan, aktif dalam organisasi, hingga terlibat dalam pelayanan Program Makan Bergizi Gratis merupakan bentuk nyata pengabdian yang ia jalani setiap hari.
Dari sebuah kampung kecil di Kecamatan Cikedal, Humaedi membuktikan bahwa semangat, kerja keras, dan keikhlasan dapat melahirkan manfaat yang luas bagi masyarakat.
Bagi Humaedi, hidup bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. Selama masih diberi kesehatan dan kesempatan, ia memilih terus bekerja, terus mengabdi, dan terus melangkah tanpa mengenal kata lelah. (Red).
Reporter : A Rozak

Zek Permana 














