Dugaan Sabotase Akun Maker, 15 Mitra SPPG dirugikan Sebut Inisial GS

Dugaan Sabotase Akun Maker, 15 Mitra SPPG dirugikan Sebut Inisial GS
Gambar: Ilustrasi MBG

BANTENSUARA.COM | PANDEGLANG — Sejumlah mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengaku mengalami kerugian akibat dugaan sabotase dan pengambilalihan akun Maker yang digunakan dalam pengelolaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Informasi tersebut disampaikan salah seorang narasumber yang meminta identitasnya tidak disebutkan. Menurutnya, dugaan persoalan tersebut melibatkan sejumlah mitra SPPG yang disebut berada dalam koordinasi atau kendali seorang oknum berinisial GS.

Narasumber menyebut sedikitnya 15 mitra SPPG merasa dirugikan, terutama berkaitan dengan pembayaran sewa dan akses terhadap akun Maker. Ia mengatakan pembayaran sewa kepada sejumlah mitra diduga kerap mengalami keterlambatan lebih dari 10 hari, bahkan terdapat mitra yang disebut belum menerima pembayaran.

"Beberapa mitra merasa dirugikan karena pembayaran sewa tidak langsung dibayarkan dan selalu tertunda lebih dari 10 hari. Bahkan ada juga yang belum dibayarkan," ujar narasumber. Senin 07/09/2026

Selain persoalan pembayaran, narasumber juga mengungkap adanya dugaan pengambilalihan maupun perubahan akses akun Maker milik sejumlah yayasan mitra tanpa pemberitahuan kepada pihak pengelola.

Salah satu yang disebut adalah Yayasan Petarung Indonesia sebagai mitra SPPG di wilayah Bayah. Menurut narasumber, terdapat persoalan terkait akses Maker yang berhubungan dengan proses pembelian bahan baku.

"Untuk salah satu mitra di Bayah, Yayasan Petarung Indonesia, pembelian bahan baku disebut tidak bisa dilakukan karena akses akun maker ditahan," katanya.

Kasus serupa, lanjut narasumber, juga dialami Yayasan Ummu Hajjah sebagai salah satu mitra SPPG di wilayah Menes, Pandeglang. Akun Maker yayasan tersebut diduga mengalami perubahan akses berupa pergantian alamat email tanpa pemberitahuan kepada pihak pengelola yayasan.

"Pihak Yayasan Ummu Hajjah merasa dirugikan karena akun Makernya tidak diberikan. Bahkan email akun tersebut disebut telah diubah tanpa pemberitahuan kepada pengelola yayasan," ungkapnya.

Narasumber menyebut sejumlah yayasan yang merasa dirugikan telah mengambil langkah hukum. Di antaranya Yayasan Petarung Indonesia, Yayasan Ummu Hajjah, Yayasan Sahabat Bangsa, serta sejumlah mitra lainnya.

Menurutnya, hingga saat ini baru satu yayasan yang telah membuat laporan, sementara mitra lainnya disebut tengah mempersiapkan langkah serupa dan berencana melaporkannya dalam waktu dekat.

"Dari sekitar 15 mitra, baru satu yayasan yang melakukan laporan. Yang lainnya sedang mempersiapkan laporan dan kemungkinan akan menyusul bulan ini," ujarnya.

Narasumber juga menyampaikan adanya dugaan penyalahgunaan anggaran sewa mitra. Namun, dugaan tersebut masih sebatas informasi yang disampaikan pihak yang mengaku dirugikan dan memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui proses pemeriksaan maupun penegakan hukum.

Atas berbagai persoalan tersebut, para mitra yang merasa dirugikan disebut sepakat untuk menempuh jalur hukum guna meminta kejelasan mengenai pengelolaan akun Maker, pembayaran sewa, serta mekanisme hubungan antara mitra dan pengelola SPPG.

Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak yang disebut dalam informasi tersebut mengenai tudingan sabotase akun, keterlambatan pembayaran sewa, maupun dugaan penggunaan anggaran sebagaimana disampaikan narasumber.

BantenSuara.com akan memberikan ruang hak jawab dan klarifikasi kepada pihak terkait apabila telah diperoleh keterangan resmi.