Menagih Substansi, Bukan Sekadar Kursi: Menaruh Harapan pada Muscab IKA PMII Pandeglang

Menagih Substansi, Bukan Sekadar Kursi: Menaruh Harapan pada Muscab IKA PMII Pandeglang
Gambar : Ahmad Zaki Rayhan Alumni PMII Pandeglang & PB PMII 2021–2024

PANDEGLANG | BANTENSUARA.COM --Ada pertanyaan sederhana menjelang Musyawarah Cabang (Muscab) Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Kabupaten Pandeglang: apa yang sebenarnya ingin kita lahirkan dari Muscab ini?

Ketua baru? Pengurus baru? Atau sekadar pergantian nama dalam struktur organisasi? Jika Muscab hanya berakhir pada pergantian kepemimpinan, maka apa yang sesungguhnya berubah?

Muscab semestinya bukan sekadar rutinitas lima tahunan. Di tengah persoalan pendidikan, kemiskinan, infrastruktur, ekonomi, kualitas sumber daya manusia, dan dinamika politik daerah, forum ini harus menjadi ruang untuk menguji kembali relevansi alumni PMII dalam kehidupan masyarakat Pandeglang.

Potensi alumni PMII Pandeglang sesungguhnya besar. Mereka tersebar di birokrasi, pendidikan, dunia usaha, organisasi masyarakat, penyelenggara pemilu, media, politik, hingga berbagai profesi lainnya. Namun persoalannya bukan kekurangan kader, melainkan bagaimana potensi tersebut dikonsolidasikan menjadi kekuatan gagasan.

Ada pula persoalan yang perlu dibicarakan secara terbuka: mentalitas minder. Masih ada kader yang menjadikan latar belakang kampus sebagai batas kemampuan dan cita-cita. Padahal, almamater bukan garis akhir. Kampus adalah titik keberangkatan.

Kader dari perguruan tinggi lokal harus berani melanjutkan pendidikan, membangun jejaring, melakukan riset, dan masuk ke ruang-ruang strategis. IKA PMII semestinya hadir membangun ekosistem melalui pendampingan beasiswa, mentoring, jaringan akademik, dan pengembangan kapasitas.

Alumni juga jangan hanya diukur dari kedekatannya dengan kekuasaan. Pengabdian jauh lebih luas. Ada yang menjadi guru, akademisi, pengusaha, peneliti, pekerja kreatif, profesional, hingga penggerak masyarakat. Karena itu, distribusi kader harus diperluas ke sektor ekonomi, pendidikan, teknologi, riset, kewirausahaan, dan ruang-ruang profesional lainnya.

Kader harus memiliki daya tawar karena kapasitasnya, bukan semata karena siapa yang dikenalnya.

Dalam konteks pembangunan daerah, IKA PMII juga perlu mengambil posisi sebagai mitra kritis pemerintah. Pandeglang membutuhkan kritik yang berbasis data, riset, dan solusi. Bukan sekadar pujian, tetapi juga bukan kritik yang berhenti pada suara keras.

Jika kebijakan pemerintah baik, alumni patut memberikan apresiasi. Jika ada yang perlu dikritisi, sampaikan dengan data dan alternatif solusi. Di situlah politik gagasan menemukan relevansinya.

Yang tidak kalah penting, IKA PMII harus menjadi rumah besar alumni, bukan milik satu generasi, kelompok, atau gerbong tertentu. Perbedaan pilihan politik dan profesi tidak seharusnya menghilangkan ruang dialog dan silaturahmi.

Muscab akhirnya bukan hanya soal siapa yang menjadi ketua. Yang lebih penting adalah untuk apa organisasi ini lima tahun ke depan.

Struktur penting, tetapi program lebih penting. Jabatan penting, tetapi kontribusi jauh lebih penting. Pemimpin yang baik bukan yang membuat dirinya selalu terlihat paling besar, melainkan yang mampu membuat kader-kader di sekelilingnya tumbuh lebih besar.

Karena itu, jangan biarkan Muscab hanya melahirkan ketua baru. Biarkan ia melahirkan keberanian baru: keberanian berpikir lebih besar, keluar dari mentalitas minder, memperluas ruang pengabdian, mengkritik dengan data, dan menawarkan solusi.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa banyak jabatan yang pernah kita rebut. Sejarah akan mengingat apa yang kita lakukan setelah mendapatkan kesempatan untuk memimpin.

Selamat bermusyawarah kepada seluruh alumni PMII Kabupaten Pandeglang. Semoga Muscab IKA PMII tidak sekadar menentukan siapa yang duduk di kursi kepemimpinan, tetapi juga menentukan gagasan apa yang akan diperjuangkan untuk lima tahun ke depan.

Penulis Opini : Ahmad Zaki Rayhan

Alumni PMII Pandeglang & PB PMII 2021–2024

Editor : Redaksi.bantensuara.com